Berita Seputar Teknologi: pendidikan
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Pemerintah Perpanjang Kuota Internet Gratis, Berikut Cara Mendapatkannya

Pemerintah Perpanjang Kuota Internet Gratis, Berikut Cara Mendapatkannya

KUAMANGMEDIA.COM - Pemerintah kembali menyalurkan bantuan kuota internet untuk siswa, mahasiswa, guru dan dosen. Bantuan tersebut akan mulai di erikan pada September hingga November 2021 mendatang.

Pemerintah Perpanjang Kuota Internet Gratis

Sementara itu untuk persyaratan penerima bantuan kuota internet adalah sebagai berikut:

  • Siswa PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah : memiliki nomor ponsel aktif baik atas nama orang tua, keluarga, atau nama siswa tersebut. Selain itu juga siswa terdaftar di Dapodik.
  • Guru : disyaratkan harus terdaftar di Dapodik dan juga memiliki nomor HP yang aktif.
  • Mahasiswa : harus terdaftar di PPDIKTI sebagai mahasiswa aktif. Selain itu jugaa memiliki nomor ponsel aktif. Mahasiswa juga wajib memilki kartu rencanan studi pada semester yang berjalan.
  • Dosen : harus terdaftar PPDIKTI sebagai dosen aktif. Lalu memiliki nomor registrasi (NIDN, NIDK, NUP) dan juga memiliki nomor ponsel yang aktif.

Dalam konferensi pers secara online, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Nadiem Makarim meminta data penerima bantuan termasuk nomor HP bisa segera dimutakhirkan hingga 31 Agustus 2021 mendatang.

Sementara itu Nadiem mengatakan bantuan akan disalurkan pada tanggal 11-15 setiap bulannya. Kuota akan aktif selama 30 hari sejak kuota diterima oleh penerima bantuan.

Nadiem menjelaskan tujuan bantuan ini untuk mendukung proses pembelajaran yang dilakukan saat ini.

"Bantuan ini bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran. Kami juga memiliki kuota umum yang memberikan akses ke semua laman dan aplikasi kecuali yang diblokir Kominfo dan tidak tercantum dalam situs pembelajaran," jelas Nadiem dikutip Rabu (4/8/2021).

Berikut besarannya bantuan internet pada September hingga November mendatang:

  • Peserta Didik jenjang PAUD mendapat 7 GB/bulan
  • Peserta Didik jenjang SD, SMP, dan SMA mendapat 10 GB/bulan
  • Pendidik Jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA mendapat 12 GB/bulan
  • Dosen dan mahasiswa mendapat 15 GB/bulan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) resmi memperpanjang program Bantuan Kuota Data Internet guna mendukung belajar online atau pembelajaran jarak jauh.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek Nadiem Makarim mengatakan bantuan kuota data internet gratis ini akan disalurkan pada 26,6 juta siswa, mahasiswa dan tenaga pengajar dengan anggaran Rp 2,3 triliun.

"Bantuan ini akan disalurkan pada September, Oktober, dan November 2021. Penyalurannya dilakukan pada tanggal 11-15 setiap bulan," ujar Nadiem Makarim dalam konferensi pers digital di Jakarta, Rabu (4/8/2021).

Besaran kuota internet yang diberikan masih sama dengan sebelumnya dan berlaku selama 30 hari sejak disalurkan.

"Bantuan ini bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran. Kami juga memiliki kuota umum yang memberikan akses ke semua laman dan aplikasi kecuali yang diblokir Kominfo dan tidak tercantum dalam situs pembelajaran," terangnya.

Nadiem juga meminta kepala satuan pembelajaran untuk segera memutakhirkan data siswa, mahasiswa, guru, dan dosen termasuk nomor ponsel paling lambat 31 Agustus 2021.

Topic:kuota internet gratis kemendikbud internet gratis sekolah online sekolah jarak jauh

Source link

Arti dari Lambang Pancasila

Arti dari Lambang Pancasila

Pancasila



Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa


· Rantai melambangkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


· Pohon beringin melambangkan sila Persatuan Indonesia


· Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan


· Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
· Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci





· Simbol-simbol di dalam perisai masing-masing melambangkan sila-sila dalam Pancasila, yaitu:


· Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah Indonesia yang dilintasi Garis Katulistiwa


· Perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia


· Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain:
· Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17
· Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8
· Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19
· Jumlah bulu di leher berjumlah 45


Pita yg dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda beda, tetapi tetap satu jua”.


LAMBANG NEGARA


SEJARAH
Tidak diketahui secara pasti, namun dalam sejarah bangsa IndonesiaLambang Burung Garuda terdapat dalam Lencana Garuda Mukha yang dikenakan oleh Prabu Airlangga yang digambarkan sebagai Dewa Wisnu yang mengendarai Burung Garuda yang bergelar Resi Getayu.
Bersumber dari museum Idayu Jakarta terdapat beberapa rancangan Lambang Negara. Sekitar akhir tahun 1949 diketahui adanya sesuatu panitia yang merancang Lambang Negara, diantaranya adalah Mr. Mohamad Yamin danSultan Hamid II.
Data yang pasti diketahui tanggal 8 Februari 1950 terdapat rancangan Lambang Negara yang dibuat oleh Mr. Mohammad yamin yang telah dipersiapkan di Istana Gambir, dalam rangka Rapat Panitia Lambang Negara bersama Presiden Republik Indonesia I, yang kemudian tercatat dalam sejarah selanjutnya rancangan mana yang terpilih.
Pada Sidang DPR RIS tanggal 20 Februari 1950 Lambang Negara yang terpampang sama dengan sekarang ada.


DASAR HUKUM


1. Peraturan Pemerintah yang menetapkan Lambang Negara secara resmi adalah PP No. 66 tahun 1951, tanggal 17 Oktober 1951, yang dinyatakan berlaku tanggal 17 Agustus 1952. Dimasukan ke dalam Lembaran Negara tahun 1951, (LN 1951 – 111).
2. Penggunaannya diatur oleh PP No. 43 tahun 1958, yang dimasukan keLembaran Negara No. 71 tahun 1958.
Lambang negara ditetapkan berupa suatu lukisan yang diambil dari salah satu bentuk-bentuk perwujudan peradaban Indonesia yang hidup dalam mythologi, symbologi dan kesusastraan Indonesia dan tergambar pada beberapa candi sejak abad ke 6 sampai dengan abad ke 16.
BENTUK
Pada garis besarnya Lambang Negara itu terbagi atas 3 (tiga) bagian yaitu :
1. Burung Garuda yang menengok dengan kepala lurus ke sebelah kanan.
2. Perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda.
3. Semboyan ditulis di atas pita yang dicengkram oleh Garuda.


MAKNA LAMBANG NEGARA


Dengan bagian-bagiannya
1. Burung Garuda, yang digantungi perisai, dengan paruh, sayap, ekor dan cakar melambangkan tenaga pembangunan.


2. Sayapnya yang berbulu tujuh belas (setiap sayapnya) melambangkan tanggal 17 (tanggal kemerdekaan).


3. Ekor berbulu delapan menandakan bulan ke 8 / Agustus, bulan kemerdekaan Republik Indonesia.


4. Bulu leher sebanyak 45 (empat puluh lima) menandakan tahun kemerdekaan (1945).


5. Perisai atau tameng berbentuk jantung adalah senjata yang dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai tanda perjuangan untuk mencapai tujuan dengan jalan melindungi diri.
Senjata yang demikian itu dijadikan lambang, karena wujud dan artinya tetap, tidak berubah-ubah, yakni sebagai lambang perjuangan dan perlindungan.
Dengan mengambil bentuk perisai ini, maka Republik Indonesia berhubungan langsung dengan peradaban Indonesia asli.
Garis hitam tebal ditengah-tengah perisai ini dimaksudkan khatulistiwa (equator)yang melewati Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Barat. Hal menyatakan bahwa Republik Indonesia adalah negara yang merdeka dan berdaulat penuh dipermukaan bumi berhawa panas.
Lima buah ruang pada perisai itu masing-masing mewujudkan dasar Negara Republik Indonesia, PANCASILA, yaitu :


v Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa
Tertulis dengan Nur Cahaya diruangan tengah berbentuk bintang yang bersudut lima.
v Dasar Kerakyatan
Dilukiskan dengan Kepala Banteng sebagai lambang tenaga rakyat.
v Dasar Kebangsaan
Dilukiskan dengan Pohon Beringin, tempat berlindung.
v Dasar Perikemanusiaan
Dilukiskan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi. Rantai bermata bulatan menunjukan bagian perempuan berjumlah 9 (sembilan), dan rantai bermata persegi berjumlah 8 (delapan) menunjukan bagian laki-laki. Jumlah rantai sebanyak 17 (tujuh belas) itu sambung menyambung tidak putus-putusnya sesuai dengan sifat manusia yang turun temurun.
v Dasar Keadilan Sosial
Dilukiskan dengan padi dan kapas sebagai tanda tujuan kemakmuran, kedua gambar tumbuh-tumbuhan tersebut (padi dan kapas) sesuai dengan hymne yang memuji-muji pakaian (sandang) dan makanan (pangan).


6. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dapat disalin diartikan sebagai berbeda-beda tetapi tetap satu jua.


Sedangkan perkataan Bhinneka itu sendiri adalah gabungan dua perkataan : Bhinna dan Ika.
Adapun makna dari pepatah itu adalah penggambaran dari persatuan dan kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia walaupun keluar memperlihatkan perbedaan dan perlainan. Kalimat itu telah tua sekali usianya dan telah dipakai oleh pujangga terutama oleh Empu Tantular dalam kitabnya Sutasoma, yang mengartikan pepatah tersebut sebagai “Diantara Pusparagam ada Persatuan”.
WARNA
Warna Lambang Negara yang dipakai adalah (terutama) tiga warna, yaitu Merah, Putih, Kuning Emas. Disamping itu dipakai juga warna hitam sebagai warna yang sebenarnya ada di alam.
Warna Emas dipakai oleh semua burung garuda, yang menggambarkan kebesaran bangsa dan keluhuran negara.
Warna Merah Putih dipakai pada ruangan perisai ditengah-tengah dan pada pita dalam cengkraman cakarnya.


PENGGUNAAN LAMBANG NEGARA


Penggunaan Lambang Negara diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 43 tentang lambang Negara tanggal 26 Juni 1958 (L.N. 1958 – 71) yang disesuaikan dengan keadaan sekarang, berbunyi sebagai berikut :


a. Pemasangan Lambang Negara di muka sebelah luar gedung dianggap sebagai suatu keistimewaan.


Oleh karena itu pemasangan dengan cara ini dibatasi pada gedung dan rumah jabatan, yaitu rumah dinas yang khusus disediakan untuk jabatan-jabatan tertentu, yaitu :
v Gedung-gedung MPR, DPR, Mahkamah Agung, DPA, BPK, Sekretariat Negara, BAPPENAS.
v Rumah-rumah jabatan Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Gubernur / Kepala Daerah dan Kepala Daerah yang setingkat dengan itu.


b. Pemasangan Lambang Negara di dalam gedung :


1. Pemasangan Lambang Negara diharuskan di dalam tiap
1) Kantor Kepala Daerah
2) Ruang Sidang MPR dan DPR
3) Ruang Sidang Peradilan
4) Markas Angkatan Perang
5) Kantor Keplosian Negara
6) Kantor Imigrasi
7) Kantor Bea dan Cukai
8) Kantor Syahbandar


2. Pemasangan Lambang Negara diperbolehkan pada tiap kantor negeri lain, di luar kantor tersebut di atas.


3. Jika Lambang Negara dalam suatu ruangan ditempatkan bersama-sama dengan Presiden dan / atau gambar Wakil Presiden, maka kepada Lambang Negara diberi tempat paling sedikit sama dengan yang diberikan kepada gambar itu.


c. Pemasangan Lambang Negara secara lain


1) Lambang Negara dipasang pada paspor dan tiap Lembaran Negara dan Berita Negara serta tambahan-tambahannya pada halaman pertama atas tengah.


2) Lambang Negara hanya diperbolehkan untuk cap jabatan Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua Mahkamah Agung, Ketua DPA, Ketua BPK, Ketua BAPPENAS, Kepala Daerah Tingkat Bupati ke atas dan Notaris.


3) Di dalam cap dinas untuk kantor-kantor pusat dari jabatan-jabatan tersebut dalam huruf b angka 2 di atas boleh dilukiskan Lambang Negara.


4) Lambang Negara dapat digunakan pada surat jabatan Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua Mahkamah Agung, Ketua DPA, Ketua BPK, Menteri, Jaksa Agung, Sekretaris Nagara, termasuk sekretaris-sekretaris di bawahnya, Gubernur / Kepala Daerah dan Notaris.


5) Lambang Negara dapat digunakan pada :


v Mata uang logam dan mata uang kertas.
v Kertas bermaterai (dalam materainya)
v Surat Ijazah Negara
v Barang negara di rumah-rumah jabatan Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Luar Negeri.
v Pakaian-pakaian resmi yang dianggap perlu oleh Pemerintah.
v Buku-buku dan majalah-majalah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat.
v Buku kumpulan Undang-undang yang diterbitkan oleh Pemerintah, juga buku kumpulan Undang-undang yang diterbitkan oleh Partikelir.
v Surat-surat kapal dan barang-barang lain dengan seizin Menteri yang bersangkutan.


6) Lambang Negara dapat digunakan diadakannya peristiwa-peristiwa resmi, pada gapura dan bangunan-bangunan lainnya yang pantas.


7) Lambang Negara dalam bentuk Lencana dapat digunakan di suatu negara asing oleh Instansi-instansi Pemerintah Republik Indonesia dilakukan menurut peraturan atau kebiasaan tentang penggunaan lambang kebangsaan asing yang berlaku di negeri itu.




LARANGAN


Pada dasarnya Lambang Negara dilarang bertentangan dengan Peraturan Pemerintah tentang Penggunaan Lambang Negara tahun 1958 No. 43 (L.N. 1958 – 71) yang ketentuan-ketentuan pokoknya seperti diuraikan di atas, dan disamping itu :


a) Pada Lambang Negara dilarang menaruh huruf, kalimat, angka, gambar, atau tanda-tanda lain.


b) Dilarang menggunakan Lambang Negara sebagai perhiasan cap dagang, reklame perdagangan, atau propaganda politik dengan cara apapun.


c) Dilarang membuat lambang perseorangan, perkumpulan, organisasi partikelir atau perusahaan yang pada pokoknya sama sekali menyerupai Lambang Negara.


ANCAMAN HUKUMAN


Tindak pidana tersebut di bawah ini, yaitu :


a. Menggunakan Lambang Negara bertentangan dengan Peraturan Pemerintah tentang Penggunaan lambang Negara tahun 1958 No. 43 (L.N. 1958 – 71) dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah tentang Panji dan Bendera Jabatan.


b. Menaruh huruf, kalimat, angka, gambar, atau tanda-tanda lain pada Lambang Negara.


c. Menggunakan Lambang Negara sebagai perhiasan cap dagang, reklame perdagangan, atau propaganda politik dengan cara apapun.


d. Lambang perseorangan, perkumpulan, organisasi partikelir atau perusahaan yang pada pokoknya sama sekali menyerupai Lambang Negara.
Kesemuanya dianggap sebagai pelanggaran dan perbuatannya dihukum dengan hukuman selama-lamanya tiga bulan atau denda.
Sejarah Bendera Indonesia

Sejarah Bendera Indonesia

Bendera Merah Putih
Bendera Republik Indonesia


Dalam sejarah Indonesia terbukti, bahwa Bendera Merah Putih dikibarkan pada tahun 1292 oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari (1222-1292). Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa
jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya.
Mpu Prapanca di dalam buku karangannya Negara Kertagama menceritakan tentang digunakannya warna Merah Putih dalam upacara hari kebesaran raja pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389 M. Menurut Prapanca, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta-kereta raja-raja yang menghadiri hari kebesaran itu bermacam-macam antara lain kereta raja puteri Lasem dihiasi dengan gambar buah meja yang berwarna merah. Atas dasar uraian itu, bahwa dalam kerajaan Majapahit warna merah dan putih merupakan warna yang dimuliakan.


Dalam suatu kitab tembo alam Minangkabau yang disalin pada tahun 1840 dari kitab yang lebih tua terdapat ambar bendera alam Minangkabau, berwarna Merah Putih Hitam. Bendera ini merupakan pusaka peninggalan jaman kerajaan Melayu Minangkabau dalam abad ke 14, ketika Maharaja Adityawarman memerintah (1340-1347). Warna Merah = warna hulubalang (yang menjalankan perintah) Warna Putih = warna agama (alim ulama) Warna Hitam = warna adat Minangkabau (penghulu adat) – Warna merah putih dikenal pula dengan sebutan warna Gula Kelapa. Di Kraton Solo terdapat pusaka berbentuk bendera Merah Putih peninggalan Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang menurunkan raja-raja Jawa.
Dalam babat tanah Jawa yang bernama babad Mentawis (Jilid II hal 123) disebutkan bahwa Ketika Sultan Agung berperang melawan negeri Pati. Tentaranya bernaung di bawah bendera Merah. Sultan Agung memerintah tahun 1613-1645.
Di bagian kepulauan lain di Indonesia juga menggunakan bendera merah putih. Antara lain, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Di jaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang.
Pada umumnya warna Merah Putih merupakan lambang keberanian, kewiraan sedangkan warna Putih merupakan lambang kesucian.


Merah Putih Pada Abad 20
Bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kali dalam abad XX sebagai lambang kemerdekaan ialah di benua Eropa. Pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di negeri Belanda dengan kepala banteng ditengah-tengahnya. Tujuan perhimpunan Indonesia Merdeka semboyan itu juga digunakan untuk nama majalah yang diterbitkan.
Pada tahun 1924 Perhimpunan Indonesia mengeluarkan buku peringatan 1908-1923 untuk memperingati hidup perkumpulan itu selama 15 tahun di Eropa. Kulit buku peringatan itu bergambar bendera Merah Putih kepala banteng.
Dalam tahun 1927 lahirlah di kota Bandung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai tujuan Indonesia Merdeka. PNI mengibarkan bendera Merah Putih kepala banteng.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 berkibarlah untuk pertama kalinya bendera merah putih sebagai bandera kebangsaan yaitu dalam Konggres Indonesia Muda di Jakarta. Sejak itu berkibarlah bendera kebangsaan Merah Putih di seluruh kepulauan Indonesia.


Sang saka merah putih di bumi Indonesia
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 mengadakan sidang yang pertama dan menetapkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Dalam UUD 1945, Bab I, pasal I, ditetapkan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Dalam UUD 1945 pasal 35 ditetapkan pula bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Dengan demikian , sejak ditetapkannya UUD 1945 , Sang Merah Putih merupakan bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sang Saka Merah Putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih negara Indonesia. Pada mulanya sebutan ini ditujukan untuk bendera Merah Putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, saat Proklamasi dilaksanakan. Tetapi selanjutnya dalam penggunaan umum, Sang Saka Merah Putih ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.
Bendera pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pada tahun 1944. Bendera berbahan katun Jepang (ada juga yang menyebutkan bahan bendera tersebut adalah kain wool dari London yang diperoleh dari seorang Jepang. Bahan ini memang pada saat itu digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia karena terkenal dengan keawetannya) berukuran 276 x 200 cm. Sejak tahun 1946 sampai dengan 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI. Sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi dan sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek di dua ujungnya, ujung berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm. Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Lalu ada bolong-bolong kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Karena terlalu lama dilipat, lipatan-lipatan itu pun sobek dan warna di sekitar lipatannya memudar.
Setelah tahun 1969, yang dikerek dan dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan RI adalah bendera duplikatnya yang terbuat dari sutra. Bendera pusaka turut pula dihadirkan namun ia hanya ‘menyaksikan’ dari dalam kotak penyimpanannya.
Makna Bendera Merah Putih
Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubun utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa. Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unn utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa.

Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.
Pengertian Ukuran Bahan Bendera Indonesia dan Aturannya

Pengertian Ukuran Bahan Bendera Indonesia dan Aturannya




Bendera Merah Putih
Bendera adalah lambang suatu negara. Oleh karena itu setiap negara memiliki bendera yang berbeda satu sama lain. Bendera negara kita disebut Sang Merah Putih karena terdiri dari warna merah dan warna putih. Warna merah memiliki makna berani dan warna putih memiliki makna suci. Bentuk, bahan, dan ukuran bendera negara Indonesia diatur dalam undang-undang nomor 24 tahun 2009.

Bentuk Bendera Merah Putih
Bendera negara “Sang Merah Putih” berbentuk empat persegi panjang dengan perbandingan lebar terhadap panjang 2:3. Bendera merah putih terdiri dari dua warna yaitu warna merah di bagian atas dan warna putih di bagian bawah. Bidang yang berwarna merah dan bidang yang berwarna putih memiliki bentuk dan luasan yang sama.

Bahan Bendera Merah Putih
Bendera merah putih untuk penggunaan resmi harus dibuat dari bahan kain yang warnanya tidak luntur.

Ukuran Bendera Merah Putih
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 bendera negara merah putih harus dibuat dengan ketentuan ukuran sebagai berikut.
• Bendera ukuran 200 cm x 300 cm untuk penggunaan di lapangan istana kepresidenan
• Bendera ukuran 120 cm x 180 cm untuk penggunaan di lapangan umum
• Bendera ukuran 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di ruangan
• Bendera ukuran 36 cm x 54 cm untuk penggunaan di mobil Presiden dan Wakil Presiden
• Bendera ukuran 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di mobil pejabat negara
• Bendera ukuran 20 cm x 30 cm untuk penggunaan di kendaraan umum
• Bendera ukuran 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kapal
• Bendera ukuran 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kereta api
• Bendera ukuran 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di pesawat udara
• Bendera ukuran 10 cm x 15 cm untuk penggunaan di meja
Untuk keperluan selain yang tersebut di atas, bendera yang merepresentasikan bendera negara dapat dibuat dari bahan yang berbeda dengan bahan, ukuran, dan bentuk yang berbeda dari bahan, ukuran, dan bentuk standar.

Bendera Negara wajib dikibarkan setiap hari di:
  1. istana Presiden dan Wakil Presiden;
  2. gedung atau kantor lembaga negara;
  3. gedung atau kantor lembaga pemerintah;
  4. gedung atau kantor lembaga pemerintah nonkementerian;
  5. gedung atau kantor lembaga pemerintah daerah;
  6. gedung atau kantor dewan perwakilan rakyat daerah;
  7. gedung atau kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri;
  8. gedung atau halaman satuan pendidikan;
  9. gedung atau kantor swasta;
  10. rumah jabatan Presiden dan Wakil Presiden;
  11. rumah jabatan pimpinan lembaga negara;
  12. rumah jabatan menteri;
  13. rumah jabatan pimpinan lembaga pemerintahan nonkementerian;
  14. rumah jabatan gubernur, bupati, walikota, dan camat;
  15. gedung atau kantor atau rumah jabatan lain;
  16. pos perbatasan dan pulau-pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  17. lingkungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia; dan
  18. taman makam pahlawan nasional.

Bendera Negara sebagai penutup peti atau usungan jenazah dapat dipasang pada peti atau usungan jenazah Presiden atau Wakil Presiden, mantan Presiden atau mantan Wakil Presiden, anggota lembaga negara, menteri atau pejabat setingkat menteri, kepala daerah, anggota dewan perwakilan rakyat daerah, kepala perwakilan diplomatik, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Republik Indonesia yang meninggal dalam tugas, dan/atau warga negara Indonesia yang berjasa bagi bangsa dan negara.
Bendera Negara yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih disimpan dan dipelihara di Monumen Nasional Jakarta.
Setiap orang dilarang:
  1. merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara;
  2. memakai Bendera Negara untuk reklame atau iklan komersial;
  3. mengibarkan Bendera Negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam;
  4. mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara; dan
  5. memakai Bendera Negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan Bendera Negara
Pengertian Peraturan Baris Berbaris PBB

Pengertian Peraturan Baris Berbaris PBB

Peraturan Baris Berbaris PBB
Peraturan Baris Berbaris




PERATURAN BARIS BERBARIS

1.1              Pengertian Baris Berbaris
            Suatu wujud fisik yang diperlukan untuk menanamkan kebiasaan tata cara hidup suatu organisasi masyarakat yang diarahkan kepada terbentuknya perwatakan tertentu.

1.2              Maksud dan Tujuan

Maksud dari PBB dibagi dua yaitu :
            Maksud Umum adalah suatu latihan awal membela negara dan dapat membedakan hak dan kewajiban Maksud Khusus adalah menanamkan rasa disiplin, mempertebal rasa semangat kebersamaan.

Tujuan dari PBB adalah :
            Menumbuhkan sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa persatuan, disiplin sehingga dengan demikian senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas diatas kepentingan individu, dan secara tak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab. Menumbuhkan adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan untuk tugas pokok tersebut sampai dengan sempurna. Rasa persatuan adalah rasa senasib sepenanggungan serta adanya ikatan batin yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas. Disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas diatas kepentingan individu yang hakikatnya tidak lain dari pada keihklasan, penyisihan/menyisihkan pilihan hati sendiri.
           
1.3              Aba-Aba
1.3.1 Pengertian
            Suatu perintah yang di berikan oleh seorang Komandan kepada pasukannya, untuk di laksanakan secara serentak atau berturut-turut.

1.3.2 Macam aba-aba
a.    Aba-aba petunjuk
     Di gunakan bila perlu untuk menegaskan maksud dari aba-aba peringatan / pelaksanaan.
b.   Aba-aba peringatan
     Inti perintah yang cukup jelas untuk dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
1.3.3 Aba-aba pelaksanaan
a)   Ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba petunjuk / peringatan dengan serentak atau berturut-turut.
b)   Aba-aba pelaksanaan yang di pakai :
1)                  GERAK
Untuk gerak-gerakan tanpa meninggalkan tempat menggunakan kaki atau anggota tubuh lain baik dalam berhenti maupun berjalan.
2)                  JALAN
Untuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat. Catatan : Bila gerakan meninggalkan tempat itu tidak terbatas jaraknya, maka di dahului denganaba-aba peringatan ” maju ”.
3)                  MULAI
Untuk pelaksanaan perintah yang harus di kerjakan berturut-turut.

1.3.4 Gerakan Perorangan Tanpa Senjata / Gerakan Dasar
a        Sikap Sempurna
            Aba –aba : ” Siap – GERAK ”
            Pelaksanaan :
ü  Badan / tubuh berdiri tegap, kedua tumit rapat, kedua kaki merupakan sudut 60o
ü   Lutut lurus, paha rapat, berat badan di kedua kaki.
ü  Perut di tari sedikit, dada di busungkan, pundak di tarik ke belakang dan tidak di naikan.
ü  Lengan rapat pada badan, pergelangan tangan lurus, jari tangan menggenggam tidak terpaksa, rapat di paha.
ü  Ibu jari segaris dengan jahitan celana.
ü  Leher lurus, dagu di tarik, mulut di tutup, gigi rapat, mata lurus ke depan, bernafas wajar.

b        Istirahat
            Aba-aba : ” Istirahat Ditempat – GERAK ”
            Pelaksanaan :
ü  Kaki kiri di pindahkan kesamping kiri, sepanjang telapak kaki ( ± 30 cm ).
ü  Kedua belah lengan dibawa ke belakang di bawah pinggang, punggung tangan kanan di atas telapak tangan kiri, tangan kanan di kepalkan dengan di lepaskan, tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk serta kedua lengangan di lemaskan.
ü  Dapat bergerak.

c         Lencang Kanan / Kiri
-          Hanya dalam bentuk bersaf.
-          aba-aba : ” Lencang kanan/kiri – GERAK ”
-          Pelaksanaan :
ü  Mengangkat tangan kanan / kiri ke samping, jari-jari tangan kanan / kiri menggenggam,      punggung tangan menghadap ke atas.
ü  Bersamaan dengan ini kepala di palingkan ke kanan / kiri, kecuali penjuru kana / kiri.
ü  Masing-masing meluruskan diri, hingga dapat melihat dada orang di sebelah kanan /          kiri-nya.
ü  Jari-jari menyentuh bahu orang yang di sebelah kanan / kirinya.
Catatan :
·         Bila bersaf tiga, saf tengah belakang, kecuali penjuru, setelah meluruskan ke depan, ikut pula memalingkan muka ke samping dengan tidak mengangkat tangan.
·         Penjuru saf tengah dan belakang, mengambil antara kedepan setelah lurus menurunkan tangan.
·          Pada aba-aba : ” Tegak GERAK ”, semua dengan serentak menurunkan lengan dan memalingkan muka kembali ke depan.

d        Setengah Lencang Kanan / Kiri
-          Aba-aba : ” Setengah Lengan Lencang Kanan – GERAK ”
-          Pelaksanaan :
ü    Seperti pelaksanaan lencang kanan, tetapi tangan kanan / kiri di pinggang ( bertolak
 pinggang ) dengan siku menyentuh lengan orang yang berdiri di sebelahnya.
ü  Pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang dan empat jari lainnya rapat satu sama lain di sebelah depan.
ü  Pada aba-aba ” Tegak Gerak ” = Seperti pada aba-aba lencang kanan.

e         Lencang Depan
            - Hanya dalam bentuk banjar.
            - Aba-aba : ” Lencang Depan - GERAK ”
            - Pelaksanaan :
ü  Penjuru tetap sikap sempurna.
ü  Nomor dua dan seterusnya     meluruskan      ke depan dengan         mengangkat tangan ke             depan.
ü  Lengan kanan lurus, tangan menggenggam, punggung tangan menghadap ke atas, mengambil jarak atau satu lengan dan di tambah dua kepal.
ü   Pada aba-aba ”Tegak Gerak ”, semua dengan serentak menurunkan tangan kembali ke      sikap sempurna.

f         Berhitung
            - Aba-aba : ”Hitung - MULAI ”
            -  Pelaksanaan :
ü  Jika bersaf,penjuru tetap melihat ke depan, saf depan memalingkan muka ke kanan.
ü  Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut mulai dari penjuru menyebut nomor, sambil             memalingkan muka ke depan.
ü  Jika berbanjar, semua dalam keadaan sikap sempurna.
ü  Pada aba-aba pelaksanaan, mulai penjuru kanan depan berturut-turut ke belakang.
ü  Penyebutan nomor di ucapkan penuh.

g        Perubahan Arah
1.      Hadap kanan / kiri
-       Aba-aba : ” Hadap kanan / kiri - GERAK ”
-       Pelaksanaan :
ü  Kaki kanan / kiri melintang di depan kaki kanan / kiri, lekuk kaki kanan / kiri berada di      ujung kaki kanan / kiri, berat badan berpindah ke kaki kanan / kiri.
ü  Tumit kaki kanan / kiri dengan badan di putar ke kanan 90 derajat
ü  Kaki kanan / kiri di rapatkan kembali seperti sikap sempurna.
2.      Hadap serong kanan / kiri
-       Aba-aba : ” Hadap serong kanan / kiri - GERAK ”.
-        Pelaksanaan :
ü  Kaki kanan / kiri di ajukan ke depan, sejajar dengan kaki kanan / kiri.
ü  Berputar arah 45o ke kanan / kiri.
ü   Kaki kanan / kiri di rapatkan kembali ke kaki kanan / kiri.
3.      Balik kanan
-       Aba-aba : ” Balik kanan - GERAK ”
-       Pelaksanaan :
ü  Kaki kiri di ajukan melintang ( lebih dalam dari hadap kanan ) di depan kaki kanan.
ü  Tumit kaki kanan beserta badan di putar ke kanan 180o.
ü   Kaki kiri di rapatkan pada kaki kanan.

h        Membuka / Menutup Barisan
1.   Buka barisan
-       Aba –aba : ” Buka Barisan - JALAN ”
-       Pelaksanaan :
                        Regu kanan dan kiri, masing-masing kembali membuat satu langkah ke samping kanan                  kiri, sedangkan regu tengah tetap.
i          Bubar
            - Aba-aba : ” Bubar jalan ”
            - Pelaksanaan :
ü  Memalingkan muka ke arah komandan dan memberi hormat ( sesuai PPM )
ü  Setelah di balas, kembali bersikap sempurna, balik kanan,menghitung dua hitungan            dalam hati, mengayuhkan kaki kiri ke depan dengan hentakan bersamaan dengan itu    lengan kanan di ayun setinggi pundak kemudian bubar.
j          Berhimpun
            - Aba-aba : ” Berkumpul - MULAI ”
            - Pelaksanaan :
ü  Semua anggota datang di depan Komandan dengan berdiri bebas,dengan jarak tiga langkah
ü  Bentuk mengikat, jumlah saf tidak mengikat.
k        Berkumpul
1.   Berkumpul bersaf
            - Aba-aba : ” Bersaf kumpul - MULAI ”
            - Pelaksanan :
ü  Pelatih menunjuk seorang anggota sebagai penjuru,untuk berdiri kurang lebih 4 langkah di depannya.
ü  Anggota lainnya berdiri di samping kiri penjuru dan berturut-turut meluruskan diri (lencang kanan)
ü  Penjuru melihat ke kiri, setelah lurus, memberi isyarat dengan perkataan ” Lurus”
ü  Pada isyarat ini semua anggota menurunkan tangan dan kembali bersikap sempurna
ü  Bila bersenjata, sebelum meluruskan, letakan senjata di pundak kiri terlebih dahulu.
               2.   Berkumpul Berbanjar
                  - Aba- aba : ” Berbanjar kumpul MULAI ”
                  - Pelaksanaan :
ü  Pelatih menunjuk seorang anggota sebagai penjuru, untuk berdiri kurang lebih 4
langkah di depannya.
ü  Anggota lainya berdiri di belakang penjuru dan berturut-turut meluruskan diri.
ü  Anggota yang paling belakang, melihat ke depan setelah lurus memberi isyarat dengan perkataan ” Lurus ”
ü  Pada isyarat ini semua anggota menurunkan lengannya dan kembali ke sikap sempurna.
ü  Bila bersenjata sebelum meluruskan, letakan senjata di pundak kiri terlebih dahulu.

l          Meninggalkan Barisan
1.      Bila pelatih memberikan perintah kepada anggota dalam barisan
-          Terlebih dahulu anggota tersebut di panggil keluar dari barisan
-          Perintah di berikan bila anggota telah berdiri dalam sikap sempurna.
-          Yang menerima perintah harus mengulangi perintah tersebut.
2.      Bila anggota yang akan minta izin
-          Mengambil sikap sempurna dahulu
-          Mengangkat tangan kanannya ke atas ( tangan di buka jari-jari dirapatkan )
-          Menyampaikan maksudnya.
-          Setelah mendapat izin, ia keluar dari barisan tanpa menunggu anggota lainnya.

a)      Panjang, Tempo Dan Macam Langkah
1.      Langkah dapat di bedakan sbb :
      Macam Langkah Panjang Tempo
-          Langkah biasa 70 cm 96 menit
-          Langkah tegap 70 cm 96 menit
-          Langkah perlahan 40 cm 30 menit
-          Langkah ke samping 40 cm 70 menit
-          Langkah ke belakang 40 cm 70 menit
-          Langkah ke depan 60 cm 70 menit
-          Langkah di waktu lari 80 cm 165 menit
2.      Panjang langkah di ukur dari tumit ke tumit

b)     Maju Jalan
1. Dari sikap sempurna
-          Aba-aba : ” Maju Jalan ”
-          Pelakasanaan :
ü  Kaki kiri di ayun ke depan, lutut lurus telapak kaki diangkat sejajar dengan tanah   setinggi 15 cm kemudian di hentakan ke tanah dengan jarak setengah langkah,       selanjutnya berjalan dengan langkah biasa.
ü  Langkah pertama di lakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90     derajat lengan kiri 30 derajat
ü  Langkah-langkah selanjutnya lengan atas dan bawah di lenggangkan ke depan       45 derajat dan ke belakang 300
ü  Dilarang keras berbicara, melihat ke kanan / kiri.

c)      Langkah Biasa
ü  Pada waktu berjalan kepala dan badan seperti sikap sempurna.
ü  Waktu mengayunkan kaki ke depan, lutut di bengkokan sedikit ( kaki tidak di       seret ).
ü  Di letakan sesuai dengan jarak yang di tentukan
ü   Langkah kaki seperti jalan biasa.
ü  Pertama tumit di letakan di tanah selanjutnya seluruh kaki.
ü  Lengan berlenggang wajar, lurus ke depan dan belakang.
ü  Jari-jari tangan menggenggam dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari      menghadap ke atas.

d)     Langkah Tegap
      1. Dari sikap sempurna
a. Aba-aba : ” Langkah Tegap Maju JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Mulai berjalan dengan kaki kiri setengah langkah,selanjutnya seperti jalan            biasa dengan cara kaki di hentakan terus menerus.
ü  Telapak kaki rapat / sejajar dengan tanah, lutut lurus, kaki tidak boleh dianggat   tinggi.
ü  Bersamaan dengan langkah pertama, genggaman tangan di buka, hingga jari-       jari lurus dan rapat.
ü  Lenggang tangan ke depan 900, ke belakang 300.
2. Dari Langkah Biasa
a. Aba-aba : ” Langkah Tegap JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Di berikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah di tambah satu langkah
ü  Perubahan tangan dari menggenggam ke terbuka di lakukan bersamaan dengan   hentakan kaki.
ü  Kembali ke langkah biasa

a. Aba-aba : ” Langkah Biasa JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Di berikan pada waktu kaki kiri / kanan jatuh di tanah di tambah satu langkah.
ü  Langkah pertama di hentakan,bersamaan dengan itu tangan kembali         menggenggam.

Catatan :
Dalam keadaan berjalan, cukup menggunakan aba-aba peringatan : Langkah tegap / biasa jalan pada perubahan langkah.

e)      Langkah Perlahan
      1. Untuk berkabung ( mengantar jenazah ) dalam upacara kemiliteran.
a. Aba-aba : ” Langkah perlahan maju JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Kaki kiri di langkahkan ke depan, setelah kaki kiri menapak tanah di susul           dengan kaki kanan di tarik ke depan dan di tahan sebentar di sebelah mata kaki
      kiri, kemudian di lanjutkan di tapakan di depan kaki kiri.
ü  Tapak kaki pada saat melangkah ( menginjak tanah ) tidak di hentikan.
ü  Berhenti dari langkah perlahan

a. Aba-aba : ” Henti GERAK ”
b. Pelaksanaan :
ü  Diberikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah satu langkah.
ü  Selanjutnya kaki kanan / kiri di rapatkan pada kaki kanan / kiri menurut irama langkah biasa dan kembali sikap sempurna.

f)       Langkah Kesamping / Kebelakang / Depan
1. Aba-aba..........Langkah ke samping/Kebelakang/Kedepan – JALAN
2. Pelaksanaan :
ü  Kaki kanan / kiri di langkahkan ke samping / kekanan / kedepan sepanjang / sesuai ketentuan.
ü   Selanjutnya kaki kiri / kanan di rapatkan pada kaki kanan / kiri.
ü   Badan tetap pada sikap sempurna, tangan tidak melenggang.
ü  Hanya boleh dilakukan sebanyak – banyaknya 4 langkah.
ü  Khusus untuk langkah ke depan, gerakan dilakukan dengan langkah tegap.

g)      Langkah di Waktu Lari
      1. Dari sikap sempurna :
a. Aba-aba : ” Langkah Maju-JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Pada aba-aba peringatan, kedua tangan di kepalkan dengan lemas di letakan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap ke luar, kedua siku sedikit ke belakang.
ü  Pada aba-aba pelaksanaan, di mulai lari dengan menghentakan kaki setengah langkah dan selanjutnya lari menurut panjang langkah.
      2. Dari Langkah Biasa :
a. Aba-aba : ” Lari – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü Pada aba-aba peringatan, sama dengan di atas.
ü Pada aba-aba pelaksanaan, di berikan pada kaki kanan / kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah.
      3. Kembali ke langkah Biasa :
a. Aba-aba : ” Langkah biasa – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah di tambah tiga lankah kemudian berjalan biasa, di mulai dengan kaki kiri di hentakan, bersamaan dengan itu kedua lengan di lenggangakan.

4. Berhenti dari berlari
a. Aba-aba : ” Henti – GERAK ”
b. Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah tiga Langkah,
selanjutnya kaki di rapatkan, kedua di turunkan, kembali bersikap sempurna.

h)     Ganti Langkah
      1. Aba-aba : ” Ganti Langkah JALAN ”
      2. Pelaksanaan :
ü  Gerakan dapat di lakukan pada waktu langkah biasa / tegap.
ü  Di berikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah satu langkah.
ü  Ujung kaki kanan / kiri yang sedang di belakang di rapatkan dengan tumit kaki        sebelahnya.
ü  Bersamaan dengan itu lenggang tangan di hentikan tanpa di rapatkan di paha.
ü  Selanjutnya di sesuaikan dengan langkah baru.
ü  Gerakan ini di lakukan dalam satu hitungan.

i)        Jalan di Tempat
      1. Dari sikap sempurna :
a. Aba-aba : ” Jalan ditempat – GERAK ”
b. Pelaksanaan :
ü    Di mulai dengan kaki kiri, lutut berganti – ganti diangkat hingga paha rata-rata.
ü Ujung kaki menuju ke bawah, tempo langkah sesuai langkah biasa.
ü Badan tegak, pandangan lurus ke depan dan lengan di rapatkan pada badan (tidak melenggang )


      2. Dari Langkah Biasa :
a. Aba-aba : ” Jalan di tempat – Gerak ”
b. Pelaksanaan :
Diberikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah kemudian jalan di tempat.

      3. Dari Jalan di Tempat ke Langkah Biasa :
a. Aba-aba ; ” Maju – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
     Di berikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah dan mulai berjalan dengan menghentakan kaki kiri setengah langkah ke depan.

4. Dari Jalan di Tempat ke Berhenti :
a. Aba-aba : ” Henti – GERAK ”
b. Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah satu langkah, selanjutnya kaki kanan / kiri di rapatkan.

j)       Berhenti
      1. Aba-aba : ” Henti GERAK ”
      2. Pelaksanaan :
Diberikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh ditanah di tambah satu langkah, selanjutnya kaki kanan / kiri dirapatkan.

k)     Hormat Kanan / Kiri
      1. Gerakan Hormat kanan / kiri
a. Aba-aba hormat kanan kiri – GERAK ”
b. Pelaksanaan :
ü Gerakan dilakukan pada waktu langkah tegap.
ü Di berikan pada waktu kaki kanan jatuh di tanah di tambah satu langkah
ü langkah berikutnya di hentakan.
ü Bersamaan dengan itu tangan kanan diangkat ke arah pelipis ( PPM ) kepala di palingkan dan pandangan mata di arahkan kepada yang di beri hormat sampai 450 hingga ada aba-aba ”Tegak gerak ”
ü Penjuru kanan / kiri tetap melihat kedepan untuk memelihara arah.
ü Lengan kiri tidak melenggang, rapat pada badan, pada waktu menyampaikan penghormatan.

2. Gerakan Selesai Menghormat :
a. Aba-aba : ” Tegak - GERAK ”
b. Pelaksanaan :
ü  Diberikan pada waktu kaki kanan jatuh di tanah, ditambah satu langkah, langkah berikutnya di hentakan.
ü  Bersamaan dengan itu lengan kanan maupun kiri kembali melenggang, pandangan kembali kedepan.

l)        Perubahan Arah Dari Berhenti ke Berjalan
      1. Ke Hadap Kanan / Kiri Maju Jalan :
a. Aba-aba : ” Hadap Kanan / Kiri ” Maju - JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Membuat gerakan hadap kanan / kiri.
ü  Pada hitungan ke tiga kaki kanan / kiri tidak dirapatkan tetapi dilangkahkan        seperti gerakan maju jalan.
      2. Ke Hadap Serong Kanan / Kiri Maju Jalan
a. Aba-aba : ” Hadap Serong kanan / kiri – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Membuat gerakan hadap serong kanan / kiri
ü  Gerakan selanjutnya sama sepetri diatas
      3. Balik Kanan Maju Jalan
a. Aba-aba : ” Balik Kanan maju – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Membuat gerakan balik Kanan
ü  Gerakan selanjutnya sama seperti di atas.
      4. Ke Belok Kanan / Kiri Maju Jalan :
a. Aba-aba : ” Belok kanan / kiri maju - JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Penjuru merubah arah 900 ke kanan / kiri dan mulai berjalan ke arah tertentu.
ü  Anggota lainnya mengikuti.

m)   Perubahan Arah Dari Berjalan ke Berjalan
1. Ke Hadap Kanan / Kiri Maju Jalan.
2. Ke Hadap Serong Kanan / Kiri Maju Jalan.
3. Ke Balik kanan maju jalan.
a. Aba-aba disesuaikan
b. Pelaksanaan :
ü  Aba-aba pelaksanaan jatuh pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
ü  Melakukan gerakan-gerakan hadap kanan / kiri hadap serong kanan / kiri, balik kanan / kiri.
ü  Gerakan selanjutnya, pada hitungan ke tiga kaki kanan / kiri tidak dirapatkan, tetapi dilangkahkan.
4. Ke Belok Kanan / Kiri
a. Aba-aba : ” Belok kanan / Kiri – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah.
ü  Penjuru depan merubah arah 900 ke kanan / kiri dan mulai jalan ke arah yang baru.
ü  Anggota lainnya mengikuti.
Catatan :
1. Aba-aba : ” Dua kali belok kanan / kiri – JALAN ”
    Pelaksanaan :
ü  Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
ü  Setelah dua langkah berjalan, kemudian melakukan gerakan belok kanan / kiri - jalan.
2. Aba-aba : ” Tiap-tiap banjar dua kali belok kanan / kiri - JALAN”
    Pelaksanaan :
ü  Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
ü  Setelah dua langkah berjalan, tiap-tiap banjar melakukan belok kanan / kiri,        pada tempat dimana aba- aba di berikan.
ü  Perubahan arah 1800.

n)     Perubahan Arah Dari Berjalan ke Berhenti
1. Ke hadap kanan / kiri berhenti
2. Ke hadap serong kanan / kiri berhenti
3. Ke balik kanan berhenti
a. Aba-aba Hadap kanan / kiri – henti GERAK
b. Hadap serong kanan / kiri henti GERAK
c. Balik kanan henti – GERAK
    Pelaksanaan :
ü  Aba-aba pelaksanaan jatuh pada kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah         satu tanah.
ü  Melakukan hadap kanan / kiri, hadap serong kanan / kiri, balik kanan.
ü  Pada hitungan ketiga, kaki kanan / kiri di rapatkan,kembali ke sikap        sempurna.

o)      Haluan Kanan / Kiri
Gerakan ini hanya dalam bentuk bersaf, guna merubah arah tanpa merubah bentuk.
1. Berhenti ke Berhenti
a. Aba-aba : ” Halauan Kanan / kiri – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
ü  Pada aba-aba pelaksanaan, penjuru kanan / kiri jalan di tempat,dengan merubah arah secara perlahan-lahan sampai 900.
ü  Bersamaan dengan ini saf mulai maju, sambil meluruskan safnya, hingga merubah arah 900, kemudian berjalan di tempat.
ü  Setelah penjuru kanan / kiri melihat safnya telah lurus, ia memberi isyarat ”LURUS ”.
ü  Kemudian Komandan memberi aba-aba Henti – Gerak .
2. Berhenti ke Berjalan
a. Aba-aba : ” Haluan kanan / kiri maju – Jalan ”
b. Pelaksanaan :
ü  Gerakan seperti tersebut di atas
ü  Setelah aba-aba ” Maju – Jalan ” ,pasukan mulai berjalan.( aba-aba di berikan Komandan ).
3. Berjalan ke Berhenti
a. Aba-aba : ” Haluan kanan / kiri – jalan ”
b. Pelaksanaan :
ü  Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
ü  Setelah penjuru kanan/kiri melihat safnya telah lurus, ia memberi isyarat ”LURUS”.
ü  Pelatih memberi aba-aba ” Henti – Jalan ”
4. Berjalan ke Berjalan
a. Aba-aba : ” Haluan kanan / kiri maju - Jalan ”
b. Pelaksanaan :
ü  Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
ü  Setelah penjuru kanan/kiri melihat safnya telah lurus, ia memberi isyarat ”LURUS”.
ü  Pelatih memberi aba-aba ” Maju – Jalan ”
ü  Seluruhnya melaksanakan berjalan.

p)     Melintang Kanan / Kiri
Gerakan ini di lakukan dalam bentuk berbanjar, guna merubah bentuk pasukan menjadi bersaf dengan arah tetap.
1. Berhenti ke Berhenti
a. Aba-aba ” Melintang kanan / kiri – Jalan ”
b. Pelaksanaan :
Setelah aba-aba pelaksanaan, melakukan gerakan hadap kanan / kiri, kemudian barisan mebuat gerakan Haluan kiri / kanan.
2. Berhenti ke Berjalan
a. Aba-aba : Melintang kanan / kiri maju – Jalan ”
b. Pelaksanaan :
ü  Setelah aba-aba pelaksanaan, melakukan gerakan hadap kanan / kiri kemudian barisan membuat gerakan haluan kanan / kiri.
ü  Setelah beri aba-aba Maju – Jalan,barisan melakukan gerakan maju jalan.
3. Berjalan ke Berjalan
a. Aba-aba : ” Melintang Kanan / kiri Maju-Jalan ”
b. Pelaksanaan :
ü  Setelah aba-aba pelaksanaan dan ditambah satu langkah barisan melakukan haluan kiri / kanan.
ü  Setelah beri aba-aba Maju – Jalan,barisan melakukan gerakan maju jalan.
4. Berhenti ke Berhenti
a. aba-aba : ” Melintang kanan / kiri – Jalan ”
b. Pelaksanaan :
ü  Setelah aba-aba pelaksanaan dan ditambah satu langkah barisan melakukan haluan kiri / kanan.
ü  Setelah aba-aba Henti – Gerak, seluruhnya kembali ke sikap sempurna.

SLOT IKLAN

Edukasi

[pendidikan][recentbylabel2]
Notification
Terima kasih telah berkunjung di situs kami.
Done